No menu items!

Jaga Investasi Baterai Listrik, Pemerintah Godok Pajak Ekspor Nikel

Must Read

Kementerian Investasi sedang membangun wacana pengenaan pajak ekspor pada komoditas dengan tingkat pengolahan bahan baku kurang dari 70%. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk melindungi investasi pada ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, salah satu aturan yang mengancam investasi ekosistem kendaraan listrik nasional datang dari Benua Eropa. Uni Eropa mensyaratkan pembangunan pabrik baterai harus berada di dekat pabrik mobil listrik.

“Sementara di Indonesia sedang membangun hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dari tambang sampai battery cell. Kalau hanya mau ambil bahan baku, kita rugi,” kata Bahlil dalam konferensi pers virtual, Selasa (24/5).

Oleh karena itu, Bahlil membangun wacana untuk mengenakan pajak ekspor bagi barang yang tingkat pengolahannya di bawah 70%. Bahlil mengatakan akan membahas rincian aturan tersebut lebih lanjut dengan Kementerian Keuangan.

Bahlil mengatakan, ekspor bahan baku tersebut akan dikenakan pajak yang cukup tinggi. Dengan demikian, negara setidaknya mendapatkan kompensasi saat mengizinkan ekspor bahan baku bijih nikel.

“Kalau tidak melakukan hilirisasi yang lazim dilakukan negara lain, negara kita akan dibohongi terus,” kata Bahlil.

Sejauh ini, telah ada lima industri asing yang melakukan investasi di ekosistem baterai kendaraan listrik. Kelima investor tersebut adalah LG Chemical, Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), Zhejiang Huayou Cobalt Co, BASF, dan Foxconn.

Pada World Economic Forum (WEF) 2022, Bahlil mengatakan, akan mengedepankan penawaran investasi pada industri pengolahan mineral. Dia akan bertemu dengan investor asal Swiss untuk mendiskusikan potensi investasi pengolahan batu bara kalori rendah asal Indonesia menjadi Dimetil Eter (DME), Selasa (24/5).

Produk DME tersebut diharapkan menjadi substitusi impor gas minyak cair (LPG). Bahlil mencatat setiap 1 juta ton DME dapat mensubstitusi nilai impor LPG hingga Rp 5 triliun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata impor LPG mencapai US$ 4,09 miliar pada 2021. Angka itu naik 58,5% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 2,58 miliar.

Indonesia dikenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Menurut data badan survei geologis Amerika Serikat (AS) atau US Geological Survey, produksi nikel Tanah Air mencapai 1 juta metrik ton pada 2021 atau menyumbang 37,04% nikel dunia. (DM05)

Latest News

Genjot Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak, Kementan Gandeng Pelaku Usaha

Dalam upaya peningkatan produksi pangan, khususnya pangan asal ternak untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan tujuan ekspor, Kementerian Pertanian...

More Articles Like This