No menu items!

Program Desa Wisata Indonesia Mampu Meningkatkan Perekonomian Daerah

Must Read

Selama masa pandemi Covid-19,  sektor wisata bisa menjadi alternatif ketahanan ekonomi  di Indonesia, dengan salah satu programnya yaitu desa wisata.

Melansir dari Data Grab di tahun 2021, disebutkan selama masa pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan di desa wisata justru naik sebesar 30 persen. Tentu saja hal ini berdampak pada terbukanya lapangan kerja dan peluang usaha baru.

Bahkan tren desa wisata dijadikan sebagai salah satu alternatif pengembangan dari sektor wisata yang mampu mendongkrak perekonomian daerah.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf)/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno, pada acara Sosialisasi Sadar Wisata di Samosir, Sumatera Utara, mengatakan,  “COVID-19 berdampak signifikan khususnya bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kita perlu mendorong pariwisata berbasis kualitas yang menawarkan experience atau pengalaman unik yang membawa kenyamanan bagi para wisatawan. Desa Wisata menjadi salah satu alternatif wisata alam yang dapat menghadirkan keunikan, melalui ciri khas produk lokal dan atraksi daerah “.

Pada acara Sosialisasi Sadar Wisata tersebut,  Sandiaga berharap landasan pembangunan sektor kepariwisataan melalui Gerakan Sadar Wisata dan Sapta Pesona selama ini, dapat terus dikedepankan dengan standar industri pariwisata yang  meliputi tiga elemen, yaitu  Sapta Pesona, Pelayanan Prima dan CHSE atau penerapan protocol kesehatan berbasis Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

Selain itu menurut Sandiaga Uno, Prinsip Sapta Pesona, CHSE dan Pelayanan Prima melalui kegiatan seperti Sosialisasi Sadar Wisata, bertujuan mempersiapkan masyarakat di sekitar destinasi termasuk desa atau kampung wisata dalam menyambut pengunjung. Sehingga pengunjung bisa mendapatkan pengalaman yang menarik dan kepercayaan wisatawan bisa meningkat.

Sementara itu , Frans Teguh, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf RI mengatakan , “Untuk memperkuat model pengelolaan desa wisata saat ini harus dapat mempertahankan kearifan lokal dan menawarkan pengalaman holistik alias menyeluruh dengan pilihan aktivitas wisata yang memberi pengalaman otentik dan nilai nilai budaya setempat agar para wisatawan merasa betah dan mau berkunjung kembali,”

Frans juga menambahkan pentingnya  untuk terus berkolaborasi dalam membangun komitmen dan kredibilitas daerah wisata, sehingga pengunjung dapat merasa nyaman, aman dan percaya.

“Kita ingin benar-benar menghadirkan standar pelayanan yang baik melalui penyediaan fasilitas wisata dan SOP yang memadai dari destinasi wisata yang dikunjungi,” ungkapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir Teti Naibaho menyatakan bahwa Ia mengakui manfaat kegiatan sosialisasi bagi daerahnya.

Menurut Teti acara sosialisasi seperti ini  mampu meningkatkan kembali pengetahuan warga di Kabupaten Samosir di masa pemulihan sektor pariwisata khususnya dalam melayani kunjungan wisatawan yang meliputi unsur unsur Sapta Pesona, Pelayanan Prima dan CHSE.

Selain itu Teti juga menambahkan bahwa banyak pelaku pariwisata di Samosir yang belom menggali potensinya secara maksimal dalam pelayanan terhadap wisatawan yang berkunjung, baik dari sisi jumlah maupun kapasitasnya. Padahal sektor pariwisata telah banyak memberi pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Karena itu  Teti  berharap , sosialisasi untuk membangun kesadaran wisata hendaknya dilaksanakan secara berkelanjutan, dan menyeluruh, misalnya meliputi pelatihan terkait potensi produk pariwisata, kewirausahaan dan pelatihan bidang pariwisata lain yang nantinya bakal melahirkan local champion atau penggerak dalam pengembangan di desa wisata masing-masing.

Acara Sosialisasi Sadar Wisata ini dilakukan secara daring, dan berlangsung selama dua hari dari tanggal 19 hingga 20 April 2022,  diikuti lebih dari 800 pelaku pariwisata yang terdiri dari pengelola homestay, pedagang kuliner, penjual suvenir, pemilik sanggar seni budaya, pemilik kapal dan pekerja garda depan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Samosir.

Sedangkan desa wisata yang mengikuti acara ini ada 8 Desa Wisata, di wilayah Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, yaitu Desa Simanindo, Desa Huta Siallagan, Desa Tuk Tuk Siadong, Desa Thomok Parsaoran, Desa Situngkir, Desa Siogungogung, Desa Huta Tinggi dan Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan.

Saat ini Kabupaten Samosir telah memiliki 54 desa wisata, 310 homestay, 65 pengelola sanggar wisata dan budaya, 20 situs budaya yang telah menjadi obyek wisata, dan juga mengembangkan 8 destinasi wisata pantai.

Kegiatan sosialisasi ini sudah dimulai sejak  pertengahan Maret 2022 lalu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan sosialisasi ini  merupakan bagian dari rangkaian Kampanye Sadar Wisata yang akan berlangsung di 65 desa wisata dari enam Destinasi Prioritas Pariwisata (DPP) Indonesia selama tahun 2022-2023, yang meliputi Lombok (Nusa Tenggara Barat), Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur-Yogyakarta-Prambanan (Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara); dan Labuan Bajo/Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur). (DM06)

Riset: Dompet Digital Paling Dipilih Masyarakat Indonesia

Hasil riset terbaru yang dilakukan InsightAsia bertajuk ‘Consistency That Leads: 2023 E-Wallet Industry Outlook’ menunjukan dompet digital semakin menjadi...

More Articles Like This