No menu items!

Peran Penting G20 Dalam Meningkatkan Energi Terbarukan Di Indonesia

Must Read

Kementerian ESDM telah memulai sidang ETWG dalam forum presidensi G20 di Yogyakarta, pada akhir Maret 2022. Tentu saja ini merupakan kesempatan baik bagi pemerintah Indonesia guna memimpin negara-negara Kelompok 20 atau G20 dalam meningkatkan kapasitas energi terbarukan di dalam negeri sekaligus mempercepat pencapaian target nir emisi pada 2060.

Agus Praditya Tampubolon, Manajer Proyek Clean, Affordable, and Secure Energy IESR, mengungkapkan bahwa usulan Indonesia mengenai topik transisi energi dalam komunikasi bersama pemimpin negara lain yang ada di dalam Kelompok G20, adalah peluang strategis untuk masa depan energi bersih.

“Dengan Indonesia menetapkan isu (transisi energi) sebagai isu prioritas itu akan melahirkan target dan kebijakan baru, sehingga lebih gampang bagi Indonesia untuk bernegosiasi dengan pemimpin G20 lainnya, katakanlah untuk minta bantuan teknis atau pendanaan,” kata Agus dalam sebuah diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis 14 April 2022.

Posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam forum G20, adalah membuat rumus kebijakan yang semestinya dapat didukung oleh negara-negara G20 lainnya karena itu merupakan kebijakan bersama, ungkap Agus.

Agus juga menambahkan bahwa jika mengacu pada target nir emisi dan kesepakatan untuk meninggalkan batu bara, maka sangat tepat bagi kelompok kerja bidang transisi energi (ETWG) G20 membuat isu prioritas berupa aksesibilitas, teknologi, dan pendanaan.

Dalam pertemuan G20, yang menjadi bahasan utamanya adalah akses energi untuk menciptakan energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua negara, terutama terkait elektrifikasi dan memasak bersih.

Kemudian diikuti dengan pembahasan isu prioritas yang berhubungan dengan teknologi berupa upaya peningkatan dan pemanfaatan teknologi untuk pembangunan industri bersih, integrasi energi terbarukan, dan efisiensi energi.

Sedangkan mengenai isu pendanaan, Indonesia akan mendorong negara-negara maju agar berinvestasi dan mendanai berbagai inovasi untuk pengembangan energi terbarukan, salah satunya menagih janji negara maju yang akan membantu pendanaan 100 miliar dolar AS untuk menangani perubahan iklim karena janji itu masih belum terealisasi hingga kini.

Sidang kelompok kerja bidang transisi energi G20 juga akan berbicara seputar pilar transisi energi serta rencana dan desain utama Road to Bali Communique yang akan dihadiri para menteri untuk mengakselerasi transisi energi dengan hasil keputusan yang akan disahkan pada September 2022.

Sehubungan isu pendanaan energi terbarukan, Penasihat Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Deni Gumilang menjelaskan bahwa ada banyak pendanaan yang bisa didapat Indonesia dari G20, karena negara-negara besar yang tergabung di dalamnya , banyak menjadi kontributor untuk mobilitas pendanaan.

Deni Gumilang juga menambahkan, Indonesia bisa mencoba pendanaan melalui skema bilateral berupa TA, grants, soft loans, maupun instrumen pendukung finansial lainnya dari lembaga GIZ, USAID, AUSAID, AFD, JICA, DANIDA, dan sebagainya.

Kemudian ada skema multilateral melalui ADB, WB, UN Agencies, EIB, dan seterusnya. Skema kombinasi sangat riuh di Indonesia saat ini dengan berbagai mekanisme yang mau mendukung transisi energi di dalam negeri.

Deni juga mengungkapkan, skema pendanaan regional mulai bermunculan saat ini karena perkembangan geopolitik seperti Asia Tenggara harus lebih berkembang ke arah energi terbarukan. Skema pendanaan ini dapat berupa SEACEF, SEA ETP, dan seterusnya. .

Indonesia juga mempunya skema-skema yang jauh lebih besar seperti dana swasta yang bisa mendukung keberlanjutan.

“Jadi dana publik tidak bisa menggantikan dana swasta, tapi dana publik me-leverage dana swasta, ini yang menjadi bagian paling penting terutama untuk transisi energi,” kata Deni.

Seperti diketahui negara-negara anggota G20 menyumbang sekitar 75% dari permintaan energi global. Maka dari itu, negara-negara G20 memegang tanggung jawab besar dan peran strategis dalam mendorong pemanfaatan energi bersih. (DM06)

Latest News

Genjot Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak, Kementan Gandeng Pelaku Usaha

Dalam upaya peningkatan produksi pangan, khususnya pangan asal ternak untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan tujuan ekspor, Kementerian Pertanian...

More Articles Like This