No menu items!

Pembiayaan Bisa 70-80 Persen Nilai Barang, KBI Ajak Perbankan Masuk Sistem Resi Gudang

Must Read

PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) mengajak kalangan perbankan masuk dalam pembiayaan sistem resi gudang yang memiliki peluang besar dan alternatif bisnis aman dan menjanjikan. Apalagi pembiayaan bisa mencapai 70 persen sampai 80 persen dari nilai barang.

“Pembiayaan di sektor resi gudang bisa menjadi alternatif atau ceruk baru bagi kalangan perbankan. Dengan jaminan komoditas yang telah diregistrasi dalam sistem resi gudang, tentunya penyaluran pembiayaan untuk para pemilik resi gudang akan aman dengan jaminan komoditas yang jelas,” kata Direktur Utama PT KBI (Persero) Fajar Wibhiyadi melalui rilis, Selasa (15/2/2022).

Menurut dia, sampai dengan saat ini, beberapa Bank termasuk beberapa Bank Pembangunan Daerah telah menyalurkan pembiayaan bagi para pemilik komoditas yang meregistrasikan komoditasnya di sistem resi gudang.

Selain itu, kata dia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa waktu lalu memproyeksikan penyaluran kredit perbankan tahun 2022 tumbuh 7,5 persen (yoy) atau meningkat dibandingkan pertumbuhan kredit tahun sebelumnya yang mencapai 5,2 persen (yoy).

Menurut Fajar, peningkatan pertumbuhan kredit tersebut merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan optimal oleh para pelaku perbankan, salah satunya dengan memanfaatkan pembiayaan dalam sistem resi gudang.

KBI yang saat ini mengemban tugas dari pemerintah sebagai pusat registrasi resi gudang mengajak para pelaku memanfaatkan pembiayaan di sektor resi gudang yang memiliki prospek baik dan menguntungkan.

Dalam sistem tersebut, penyaluran pembiayaan dari perbankan yang terlibat akan semakin aman karena adanya jaminan komoditas yang telah diregistrasi dalam sistem resi gudang.

“Kami sebagai pusat registrasi tentunya telah melakukan verifikasi atas komoditas yang diregistrasikan ke sistem resi gudang. Terkait besaran pembiayaan yang diberikan, kalangan perbankan bisa memberikan antara 70 hingga 80 persen dari total nilai barang yang diregistrasikan ke resi gudang,” kata Fajar.

Ia menambahkan, bagi kalangan perbankan, dengan memberikan pembiayaan di sistem resi gudang, juga merupakan bentuk upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan pemilik komoditas yang telah dicanangkan pemerintah.

Untuk itu, KBI akan terus melakukan komunikasi kepada kalangan perbankan untuk bisa masuk ke pembiayaan resi gudang.

Selain itu, besarnya potensi resi gudang ini juga bisa dimanfaatkan oleh lembaga pembiayaan di luar perbankan, baik itu kalangan bisnis korporasi maupun “financial technology” (fintech).

Terkait pembiayaan resi gudang, data KBI menunjukkan sepanjang empat tahun terakhir terjadi peningkatan pembiayaan resi gudang. Pada tahun 2017 pembiayaan resi gudang mencapai Rp15,9 miliar, tahun berikutnya Rp52,6 miliar, selanjutnya pada 2019 mencapai Rp56,5 miliar, dan 2020 mencapai Rp93,8 miliar.

“Sedangkan di tahun 2021 nilai pembiayaan resi gudang mencapai Rp277,4 miliar. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 195 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Menurut dia, adanya peningkatan pembiayaan resi gudang ini merupakan hal positif, tidak hanya bagi para pemilik komoditas yang telah mendapatkan pembiayaan untuk keberlangsungan usahanya, namun juga menunjukkan adanya kepercayaan dari para pelaku usaha, termasuk diantaranya perbankan terkait pembiayaan di sektor resi gudang.

“Resi gudang memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia, dan terkait pembiayaan, kami proyeksikan di tahun 2022 akan tubuh di atas 50 persen,” kata Fajar.

Terkait pembiayaan di sektor resi gudang, Kepala Biro Pembinaan dan Pengawasan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Widiastuti mengatakan yang dilakukan KBI sejalan dengan peran Bappebti sebagai regulator.

“Kami juga terus mengajak para pemangku kepentingan untuk secara bersama-sama meningkatkan pembiayaan resi gudang karena salah satu fungsi resi gudang adalah bagaimana pemilik komoditas bisa mendapatkan pembiayaan untuk kelangsungan usahanya,” kata Widiastuti.

Untuk itu, diharapkan para pemangku kepentingan untuk terus melakukan sosialisasi, tidak hanya bagi pemilik komoditas, namun juga ke kalangan perbankan dan dunia usaha.

“Penggiatan sosialisasi ini kami harapkan ke depan bisa mengajak seluruh pemangku kepentingan dan unsur terkait lainnya masuk ke dalam pembiayaan resi gudang ini,” katanya.(DM04)

Calvin Kizana Ditunjuk Sebagai Head of WhatsApp Pertama di Indonesia

WhatsApp mengumumkan Calvin Kizana sebagai Head of WhatsApp pertama di Indonesia. Calvin memulai peran barunya hari ini dari kantor...

More Articles Like This