No menu items!

Gaya Bakar Uang Mulai Ditinggalkan, Investor Pilih Startup Pencetak Cuan

Must Read

Ini perlu menjadi perhatian pengelola startup. Investor mulai bergeser meninggalkan startup dengan model bisnis yang mengejar pertumbuhan penjualan (market share) dan pelanggan (traction) dan memilih yang menghasilkan keuntungan atau cuan.

“Sekarang ini bukan hanya sekadar traction dan gaya-gayaan, atau biasa disebut bakar uang. Sekarang sudah lebih melihat cash flow. Karena investor pasti mempertimbangkan strategi exit,” ujar Rudiantara, Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc), Jumat (10/12/2021).

Sebagai informasi, strategi exit tersebut antara lain penawaran perdana saham (IPO), serta menunggu aksi akuisisi atau merger dengan pihak lain. Khusus pendanaan lewat pasar modal, kendati regulasi di Indonesia memperbolehkan startup yang masih merugi melakukan IPO, pengalaman terhadap PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) memberikan pelajaran baru.

Inilah yang mendorong Rudiantara menyarankan startup-startup potensial yang masih belum menyentuh profit untuk melengkapi ekosistem usahanya, dengan tujuan mengincar potensi cash flow.

IFSoc juga melihat tren startup besar mulai membuat atau mengakuisisi fintech, bahkan mengincar bank untuk mengubahnya menjadi neobank, menilik jasa keuangan merupakan sektor dengan model bisnis paling mudah mendatangkan ‘cuan’.

“Terpenting model bisnis, dan ke depan salah satu yang berpotensi menjadi besar itu fintech murni atau fintech dalam ekosistem (startup) yang melakukan backward integration (melengkapi ekosistem layanan),” papar Rudiantara yang juga Menkominfo periode 2014-20219 ini.

Rudi yang juga Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) ini memberikan gambaran, di mana dari 8 unikorn di Indonesia, sebagian besar merupakan fintech, financial related, atau telah memiliki layanan jasa keuangan sendiri.

Fintech murni antara lain, Xendit bervaluasi US$1 miliar, Ajaib bervaluasi US$1 miliar, dan OVO yang bervaluasi US$2,9 miliar. Adapun, unikorn financial related atau memiliki fintech di dalamnya, antara lain, Online Pajak bervaluasi US$1,7 miliar, Traveloka bervaluasi US$3 miliar, dan Gojek-Tokopedia bervaluasi US$18 miliar.

“Sebagai contoh, GoTo itu punya layanan jasa finansial GoPay, yang kalau dipisah sebenarnya sudah bisa jadi unikorn sendiri. Apalagi dengan ditambah Bank Jago. Maka kami melihat tahun depan akan bermunculan startup lain yang mengincar layanan perbankan,” tutupnya.

Adapun, dari sisi penambahan unikorn baru di Tanah Air pada tahun depan, Rudiantara menebak akan ada startup di sektor fintech, health-tech, dan edutech yang berbondong-bondong mulai ‘lulus’ dari valuasi centaur untuk menjadi unikorn.(DM04)

Calvin Kizana Ditunjuk Sebagai Head of WhatsApp Pertama di Indonesia

WhatsApp mengumumkan Calvin Kizana sebagai Head of WhatsApp pertama di Indonesia. Calvin memulai peran barunya hari ini dari kantor...

More Articles Like This