No menu items!

Jadi Tontonan, Senin Malam Gunung Semeru Muntahkan Lava Pijar

Must Read

Gunung Semeru memunculkan lava pijar yang tampak dari Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021), sekitar pukul 20.00 WIB. Pantauan Antara dari depan Balai Desa Sumberwuluh, lava pijar terlihat jelas dan membuat sebagian warga keluar rumah untuk menyaksikan.

“Iya, keluar dan kelihatan dari sini. Tapi bagi kami memang sudah biasa karena juga beberapa kali muncul lava pijar,” ujar salah seorang warga, Mbah Jaya.

Hingga pukul 21.30 WIB atau berita ini ditulis, lava pijar tetap terlihat dan menjadi tontonan sebagian warga.

Fenomena tersebut juga menjadi sasaran obyek fotografer dari sejumlah media yang bertugas melakukan peliputan terkait meningkatnya aktivitas Gunung Semeru.

Pada Sabtu (4/12/2021) sore terjadi peningkatan aktivitas Gunung Semeru yang mengeluarkan asap panas dan berdampak pada daerah di sekitar gunung setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut.

Ratusan warga terpaksa harus mengungsi ke berbagai tempat aman untuk menghindari awan panas di gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu.

Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa awan panas guguran adalah ancaman khas dari Gunung Semeru yang terletak di wilayah Malang dan Lumajang, Jawa Timur.

“Awan panas guguran ini merupakan karakteristik ancaman khas dari Gunung Semeru, yakni berupa awan panas yang berasal dari ujung aliran lava pada bagian lereng gunung,” kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Minggu (5/12/2021).

Ia menjelaskan letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta pembentukan kubah lava atau lidah lava baru.

“Penghancuran kubah atau lidah lava ini lantas mengakibatkan pembentukan awan panas guguran di Gunung Semeru,” katanya,

Dikemukakannya bahwa endapan awan panas guguran terdiri dari material bebatuan yang memiliki suhu berkisar 800 sampai 900 derajat Celcius yang bergerak ke arah lereng tenggara Gunung Semeru.

Jika terjadi hujan, kata dia, endapan awan panas guguran ini dapat menyebabkan banjir lahar dingin pada sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak.

Potensi ancaman bahaya lainnya dari erupsi Gunung Semeru, kata dia, berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.

Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1 dan 4 Desember 2021 merupakan aktivitas permukaan (erupsi sekunder) dan hasil analisis data kegempaan tidak menunjukkan adanya kenaikan jumlah dan jenis gempa yang berasosiasi dengan suplai magma atau batuan segar ke permukaan.

Pada 1 Desember 2021 terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1.700 meter dari puncak atau 700 meter dari ujung aliran lava dengan arah luncuran ke tenggara.

Setelah kejadian awan panas guguran terjadi guguran lava dengan jarak dan arah luncur tidak teramati.

Pada 4 Desember 2021 mulai pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir, kemudian pada pukul 14.50 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur empat kilometer dari puncak atau dua kilometer dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan).

“Kami akan terus memperbarui data kondisi terakhir pemantauan Gunung Semeru dengan tujuan agar masyarakat dapat memperoleh informasi akurat,” demikian Eko Budi Lelono.(DM04)

Latest News

Masif dan Agresif Pertamina Lanjutkan Eksplorasi Dukung Ketahanan Energi

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina berkomitmen memberikan kontribusi terbaiknya pada pencapaian ketahanan energi negeri. Dalam...

More Articles Like This