No menu items!

Nilai Transaksi Terus Meningkat, Pasar Modal Syariah Makin Semarak

Must Read

Kementerian BUMN menyebutkan kinerja pasar modal syariah terus meningkat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal itu tercermin dari sisi nilai kapitalisasi, rata-rata transaksi, hingga jumlah investor.

Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury mengungkapkan, secara historis kurun waktu 10 tahun terakhir, jumlah saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat hingga 84%. Jumlah saham syariah justru meningkat signifikan dibandingkan jumlah saham umum yang tercatat di BEI yang hanya tumbuh 64%. Bahkan untuk sisi pertumbuhan saham non-syariah juga secara agregat tumbuh lebih rendah sekitar 44%.

“Jumlah saham syariah meningkat secara pesat yaitu sebesar 84% atau artinya lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan sejumlah saham secara umum,” kata Pahala dalam Konferensi Internasional KNEKS secara daring, Kamis (15/7).

Kemudian, rata-rata volume transaksi harian meningkat sebesar 13,8% setiap tahunnya, yaitu dari 2,7 miliar saham per hari pada 2011 menjadi 8,97 miliar saham pada Maret 2021. Frekuensi transaksi harian bahkan meningkat 31% per tahun. Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian meningkat sebesar 14,6% per tahun, yakni semula pada tahun 2011 tercatat Rp 2,41 triliun menjadi Rp 8,54 triliun saat ini.

Begitu pula terjadi peningkatan pada rata-rata frekuensi transaksi harian dari semula 30,9% per tahun, yakni dari 65 ribu kali pada tahun 2011 menjadi 793 ribu kali hingga saat ini.

Lebih lanjut, Pahala menyebut nilai kapitalisasi pasar ISSI meningkat signifikan, yang semula tahun 2011 hanya Rp 1.968 triliun menjadi Rp 3.493 triliun atau 49% dari total IHSG berdasarkan data per 16 April 2021. Bahkan terjadi kenaikan nilai kapitalisasi pasar hingga 6,4%.

Kendati begitu, ia tak menampik bahwa pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 memiliki dampak pada sektor perekonomian dan keuangan secara umum. ISSI turun 5,46% secara yoy, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) turun hingga 9,69%.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, kinerja pasar modal syariah ikut mengalami perlambatan sebagai dampak pandemi Covid-19, khususnya untuk kinerja saham syariah dan reksa dana syariah. “Menghadapi situasi ini diperlukan suatu inovasi bersama, yang dapat berperan sebagai katalisator perluasan market yang lebih inklusif dan berkesinambungan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa masih terdapat ruang yang luas untuk pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pernah menyampaikan bahwa market share keuangan syariah Indonesia masih relatif rendah, yaitu 9,89% dari total aset keuangan nasional Indonesia, termasuk di dalamnya pasar modal syariah.

“Dan, untuk lebih mengembangkan pasar modal syariah, OJK telah menerbitkan Roadmap Pasar Modal Syariah tahun 2020-2024 sebagai salah satu panduan terkait arah kebijakan pasar modal syariah,” jelas Ma’ruf Amin.

Selanjutnya berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk penguatan industri keuangan syariah di Indonesia. Salah satunya merger tiga bank umum syariah yang kini dikenal dengan nama PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Pada 2025, BSI ditargetkan masuk 10 besar bank syariah dunia.

Jumlah Investor

Hingga Juni 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 5,6 juta SID (single investor identification atau meningkat 44,45% dibandingkan akhir 2020 sebanyak 3,88 juta. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), investor reksa dana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 4,93 juta orang. Investor reksa dana menunjukkan peningkatan hingga 55,27% dibandingkan akhir 2020 sebanyak 3,17 juta orang.

Sementara itu, jumlah investor saham mencapai 2,51 juta SID atau meningkat 48,32% dibandingkan dari akhir 2020 sebanyak 1,69 juta orang. Sedangkan investor surat berharga negara (SBN) mencapai 538,78 ribu orang atau meningkat 17,03% dari akhir 2020.

Dilihat dari jenis kelamin, laki-laki mendominasi jumlah investor pasar modal sebanyak 61,87% atau dengan nilai aset Rp 623,72 triliun. Sementara, perempuan menguasai 38,13% dengan nilai aset sebesar Rp 202,82 triliun.

Sedangkan dari usia, investor yang berusia 30 tahun ke bawah mendominasi jumlah investor atau sebanyak 58,39%. Sementara, investor berusia 31-40 tahun mencapai 21,61% dan sisanya berasal dari investor berusia 41-50 tahun, 51-60 tahun dan di atas 60 tahun.

Dilihat dari jenis pekerjaan, pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 33,98%. Kemudian berasal juga dari pelajar yang mencapai 27,73%, pengusaha 13,59%, dan ibu rumah tangga 4,64%.

Sementara dari jenis pendidikan, investor dengan latar pendidikan SMA mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni mencapai 53,54%. Investor berpendidikan S1 mencapai 35,3%, D3 sebanyak 7,85%, dan S2 3,32%.

Sedangkan dari sisi penghasilan, investor dengan penghasilan Rp 10-100 juta menjadi investor dengan jumlah terbanyak, yakni 52,69%. Sementara yang berpenghasilan di atas Rp 1 miliar hanya mencapai 0,71%, namun nilai asetnya mendominasi, yakni mencapai Rp 177,51 triliun. (DM05)

>Berikut berita terkait Ekonomi Syariah, simak disini

Latest News

Genjot Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak, Kementan Gandeng Pelaku Usaha

Dalam upaya peningkatan produksi pangan, khususnya pangan asal ternak untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan tujuan ekspor, Kementerian Pertanian...

More Articles Like This