No menu items!

Resmikan PLTSa Surabaya 12 MW, Presiden Jokowi : Ndak Usah Ruwet, Tiru Saja Ini

Must Read

Presiden RI Joko Widodo meresmikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Kota Surabaya. Dia minta pemerintah daerah lainnya meniru PLTSa 12 MW hasil kerjasama Pemkot Surabaya dengan PT Sumber Organik.

“Nanti kota-kota lain saya perintah untuk, udah lah nggak usah ruwet-ruwet pakai ide-ide, udah lah lihat saja Surabaya, tiru, kopi. Saya rasa itu saja. Dengan mengucap bismillahir-rahmanir-rahim, saya resmikan instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis energi ramah lingkungan pada sore ini,” jelas Presiden Jokowi.

Dia mengatakan hal itu saat meresmikan PLTSa Surabaya di lokasi TPA Benowo, Surabaya, Kamis (6/5/2021). Dalam sambutannya pada peresmian itu, Presiden memuji kinerja Wali Kota Surabaya atas keberhasilan mewujudkan fasilitas tersebut.

Presiden Joko Widodo saat meresmikan PLTSa (12 MW) di lokasi TPA Benowo, Surabaya, Kamis (6/5/2021)

“Proses pengolahan sampah yang sebentar lagi akan kita lihat, ini sudah sejak 2018 saya siapkan perpresnya, saya siapkan PP-nya,” ujar Presiden mengawali sambutannya dari lokasi peresmian di Surabaya, yang disaksikan melalui Youtube Sekretariat Presiden di Jakarta.

Kepala Negara mengatakan berdasarkan pengalaman yang dialaminya sejak 2008, saat dirinya masih menjadi wali kota, kemudian menjadi gubernur, lalu menjadi Presiden, tidak bisa merealisasikan pengolahan sampah menjadi listrik.

“Sehingga keluar Perpres 16 Tahun 2018 mengenai investasi. Keluar lagi Perpres 35 Tahun 2018 mengenai tarif listrik, untuk memastikan pemda berani mengeksekusi,” ujar dia.

Menurut Presiden, pemda takut mengeksekusi karena khawatir dipanggil pihak berwenang lantaran tidak ada payung hukum yang jelas. Akhirnya pemerintah mengeluarkan PP mengenai pengelolaan barang daerah.

“Tapi memang kecepatan bekerja Pemerintah Kota Surabaya patut kita acungi jempol. Sehingga selesai pertama dari tujuh kota yang saya tunjuk lewat perpres, ini yang pertama jadi. Yang lain masih maju mundur, maju mundur. Sehingga sekali lagi saya acungi dua jempol untuk Pemerintah Kota Surabaya baik wali kota lama maupun baru,” jelasnya.

Presiden menyadari memang tidak mudah merealisasikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Dirinya mengeluarkan perpres dan peraturan pemerintah agar seluruh kota bisa merealisasikan hal tersebut.

“Karena urusan sampah bukan urusan menjadikan sampah menjadi listrik, bukan itu. Tapi urusan kebersihan kota, nanti kalau ada masalah pencemaran karena sampah yang ditumpuk kemudian kalau hujan menghasilkan limbah lindi, problem semuanya,” katanya.

Adapun Presiden menerima laporan dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengenai adanya masalah dengan tambak sekitar. Namun dia mengapresiasi dan menghargai instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik yang berbasis ramah lingkungan sudah terealisasi di Surabaya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Pemerintah Kota Surabaya Anna Fajriatin di Surabaya, Rabu (5/5/2021) mengatakan di Indonesia baru pertama kali instalasi pengolahan sampah terbesar menjadi listrik dilakukan. PLTSa ini menjadi pilot project strategis Nasional.

“Jadi ini Insya Allah bakal menjadi pilot project (proyek percontohan) Nasional,” katanya.

Anna menjelaskan bahwa pembangunan PSEL Benowo yang dilakukan pemkot ini, dimulai sejak Tahun 2012 dengan menggandeng PT. Sumber Organik (SO). Dimana saat itu proses mengolah sampah menjadi listrik masih menggunakan metode landfill gas power plant.

“Dengan metode ini, PSEL mampu menghasilkan energi listrik 2 Megawatt dari 600 ton sampah per hari,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, lanjut dia, kemudian di Tahun 2015, pemkot yang bekerja sama dengan PT. SO ini mulai menggunakan metode gasification power plant untuk mengolah sampah menjadi listrik.

Target awalnya, di Tahun 2020 melalui metode ini sudah dapat mengolah sampah menjadi listrik, namun karena adanya pandemi COVID-19, sehingga proses komisioning atau pengujian oleh tim ahli dari luar negeri mundur dilakukan.

“Alhamdulillah Tanggal 10 Maret 2021 kemarin sudah proses. Jadi sudah bisa menghasilkan listrik 9 Megawatt dari setiap 1.000 ton sampah per hari,” katanya.

Ia menyebut listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini kemudian menjadi kewenangan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebab, PT. SO yang bekerja sama dengan PLN terkait listrik yang dihasilkan tersebut.

Sementara pemkot sendiri, kata dia, bekerja sama dengan PT. SO dengan konsep bangun guna serah (built operate and transfer) selama 20 tahun.

“Jadi nanti tahun ke 20 atau di Tahun 2032, semua (alat) ini menjadi milik pemkot dengan kondisi 85 persen. Artinya, mesinnya, semua peralatan pengolahan sampah ini dalam kondisi baik dan menghasilkan listrik dalam kondisi baik,” katanya.

Secara sederhana, Anna menjelaskan bagaimana metode gasification power plant ini mampu mengolah sampah menjadi listrik. Pertama, sampah yang telah ditimbang akan dimasukkan waste pit atau proses pemilahan.

Kemudian, sampah itu diayak menggunakan crane, seperti capit dan dimasukkan ke dalam boiler. Di dalam boiler itulah proses pembakaran dilakukan. Metode ini pun terbilang lebih cepat dibanding sebelumnya landfill gas power plant.

“Jadi melalui gasification ini per hari minimal 1.000 ton sampah yang diolah menjadi listrik. Dan mesin ini bekerja selama 24 jam tidak berhenti, tapi memang dalam satu tahun itu ada beberapa hari masa pemeliharaan. Jadi saat itu mesin berhenti tidak beroperasi sama sekali, supaya tidak rusak,” kata Anna.

Saat ini, Anna menyebut, sampah yang dihasilkan Kota Surabaya mencapai sekitar 1.500 ton per hari, sedangkan jenis sampah yang diolah di TPS Benowo adalah sampah domestik atau rumah tangga. Sementara untuk jenis sampah, seperti limbah mebel diolah kembali di lokasi lain, seperti di galeri milik pemkot.

“Jadi tidak semua jenis sampah masuk ke sini. Sebelum sampah masuk ke TPA Benowo itu kami pilah-pilah dulu di TPS (tempat pembuangan sampah). Ada sebanyak 190 TPS di Surabaya,” kata dia.(DM04)

Calvin Kizana Ditunjuk Sebagai Head of WhatsApp Pertama di Indonesia

WhatsApp mengumumkan Calvin Kizana sebagai Head of WhatsApp pertama di Indonesia. Calvin memulai peran barunya hari ini dari kantor...

More Articles Like This