No menu items!

Ungkap Ekonomi Syariah Paling Tahan Hadapi Pandemi, BI : Keuangan Syariah Belum Optimal

Must Read

Pandemi COVID-19 yang melanda sepanjang 2020 memberi hikmah. Perekonomian syariah terbukti paling tahan atau resiliensi. Saat perekonomian terkontraksi di atas 2 persen, ekonomi syariah mampu bertahan di posisi terkontraksi 1,7 persen. Bahkan sektor halal food dan pertanian malah masih positif.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia M Anwar Bashori, Senin (5/4/2021). Dia mengungkapkan kemampuan ekonomi syariah bertahan di tengah pusaran pandemi COVID-19.

“Artinya apa? Bicara ekonomi syariah, resiliensi justru muncul di Indonesia. Jadi sebetulnya berpotensi dan sekarang faktanya Indonesia harusnya ekonomi syariah betul-betul sudah jadi penopang kegiatan ekonomi di Indonesia,” ujar Anwar di Jakarta.

Dua sektor prioritas dalam rantai nilai halal atau Halal Value Chains (HVC) tumbuh positif sepanjang 2020 yaitu sektor pertanian dan sektor makanan halal masing-masing 1,85 persen dan 1,58 persen.

Sedangkan sektor pariwisata ramah muslim atau PRM dan sektor mode busana muslim masing-masing terkontraksi minus 12,53 persen dan minus 8,87 persen.

“Kalau kita bicara sektor prioritas usaha syariah yang didekati dengan Halal Value Chains itu, sekitar share-nya 25 persen itu justru pertumbuhannya selama lima tahun terakhir itu lebih tinggi dari PDB,” kata Anwar.

Pangsa HVC terhadap PDB tumbuh sebesar 24,3 persen pada 2016, 24,49 persen pada 2017, 24,61 persen pada 2018, 24,77 persen pada 2019, dan 24,86 persen pada 2020 lalu.

Anwar menilai jika berbicara soal strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, orkestrasinya sudah pas di mana ada Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dan Masyarakat Ekonomi Syariah dari sisi top down dan industri yang sudah berjalan dari sisi bottom up.

“Tapi yang paling pas adalah kita tidak bisa strategi masing-masing, keuangan sendiri ekonomi sendiri, tidak bisa. Kalau kita bicara mengembangkan ekonomi syariah itu harus dua-duanya. Ekonomi dan keuangan itu harus berkembang dua-duanya, tidak bisa bergerak sendiri keuangannya,” ujar Anwar.

Ia menjelaskan problem syariah di dunia, tidak hanya di Indonesia, yaitu tidak ada ketersambungan dan kesesuaian antara ekonomi dan keuangan syariah. Ekonomi syariah di Indonesia luar biasa berkembang, namun keuangan syariahnya relatif belum optimal.

“Kenapa keuangannya belum bergerak? Karena memang belum ada matching. Salah satu strateginya, seperti salah satu merger tadi BSI, kemudian bagaimana wakaf, itulah PR bersama sehingga mengembangkan strateginya itu pilar ekonomi dan keuangan itu menjadi suatu ekosistem orkestrasi yang bagus untuk menangkap kepada pengembangan itu semua,” kata Anwar.(DM04)

Latest News

Pertamina Lubricants Dukung Pencapaian Target Hulu Migas Nasional

PT Pertamina Lubricants (PTPL), anak perusahaan Subholding Commercial & Trading Pertamina, yang mengelola usaha pelumas otomotif dan industri baik...

More Articles Like This