No menu items!

Industri Berbasis Teknologi Sebagai Engine of Growth (4)

Must Read

Oleh : F. Harry Sampurno, Ph.D, Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero)

F. Harry Sampurno, Ph.D, Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero)

Peran Sektor Industri Makin Menurun

Setelah mencapai puncak sekitar 31% dari PDB sebelumkrisis ekonomi tahun 1997-1998, peran sektor industri terus menurun dengan pertumbuhan dibawah pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan nilai tambah sektor industri (manufacturing) yang masih sekitar 27,5% di tahun 2006 merosot tinggal menjadi 19,6% ditahun 2019.

Penurunan ini sempat dianalisis oleh Prof Firmanzah (2014), yang membandingkan bahwa memang terjadi penurunan kinerja manufaktur di banyak negara khususnya sektor manufaktur negara China, Jerman, AS, dan Uni Eropa yang menunjukkan tren memburuk. Disebutkan bahwa selama tahun 2011, 2012, dan 2013 sektor industri pengolahan nonmigas semakin berperan yang tercermin dari sejumlah indikator: pertama, dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan industri nonmigas lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDB nasional.

Pada tahun 2011, industri nonmigas tumbuh 6,74% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 6,49%. Pada 2012, industri nonmigas tumbuh 6,42%, lebih tinggi dari pertumbuhan PDB nasional sebesar 6,26% dan pada 2013, pertumbuhan ekonomi nonmigas tumbuh sebesar6,1%, sementara PDB tumbuh 5,78%.

Kedua, penyerapan tenaga kerja di sektor industri nonmigas juga terus meningkat, yaitu pada 2005 sebesar 11,84 juta tenaga kerja sampai akhir 2013 meningkat 20% dan menjadi lebih dari 14,81 juta tenaga kerja. Ketiga, dari sisi nilai ekspor sektor industri nonmigas mengalami peningkatan lebih dari 50% dari tahun 2005 yang senilai USD55,57 miliar menjadi lebih dari USD113 miliar.

Keempat, dari sisi investasi, terjadi peningkatan tajam baik PMDN maupun PMA dari tahun 2005 dengan nilai investasi PMDN sebesar Rp20,99 triliun meningkat menjadi lebih dari Rp51 triliun pada 2013. Sementara nilai investasi PMA pada 2005 hanya berkisar USD3,5 miliar, meningkat tajam sebesar USD15,86 miliar. Kelima, tidak hanya di sektor industri besar, untuk industri kecil dan menengah (IKM) juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Pada 2010, terdapat 2,75 unit usaha IKM dan pada 2013 diperkirakan unit usaha IKM meningkat mencapai lebih dari 3,49 juta.

Tren peningkatan pertumbuhan industri nonmigas terjadi pada periode 2009-2011. Pada 2009, pertumbuhan industri nonmigas hanya sebesar 2,56% meningkat tajam menjadi 6,74% pada 2011. Bahkan untuk sektor industri automotif, Indonesia dianggap sebagai negara yang akan menjadi basis produksi industri automotif kawasan Asia-Pasifik.

Prof Firmanzah menjelaskan beberapa faktor penyebab kebangkitan sebagai berikut: pertama, stabilitas politik, keamanan, dan ketertiban nasional yang semakin kondusif pasca-Pemilu 2009. Indonesia mampu mengawal transisi demokrasi pascareformasi secara aman, damai dengan stabil. Kedua, fundamental ekonomi yang semakin baik dan masuknya Indonesia dalam investment-grade turut mendorong semakin besarnya minat berinvestasi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir.

Ketiga, daya beli masyarakat yang terjaga serta kemampuan Indonesia dalam mengelola inflasi semakin baik. Besarnya ekonomi domestik menjadi faktor penarik bagi kebangkitan industri manufaktur nasional. Keempat, hadirnya proyek infrastruktur dan besar sejak akhir dekade pertama abad 21 turut memberikan andil signifikan bagi investor baik dalam negeri (BUMN dan swasta) maupun asing untuk ikut membangun infrastruktur dan sektor riil di tanahair.

Kelima, komitmen nasional dalam hal industrialisasi dan hilirisasi juga membuat semakin derasnya investasi di sektor nonmigas. Keenam, semakin membesarnya ruang fiskal yang tecermin pada peningkatan anggaran belanja negara dalam APBN turut memberikan andil bagi berkembangnya sejumlah industri strategis nasional seperti PT Pindad, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia. Semakin berkembangnya industri-industri strategis nasional akan menarik industri terkait dalam mata rantai produksi.

Bahkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam wawancara khusus dengan media online menyampaikan bahwa sektor industri pada kuartal ketiga 2017 tumbuh 5,51% atau di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di angka 5,01%. Yang mana industri Indonesia berkontribusi sebesar 22% bagi jumlah PDB secara keseluruhan.

Sayangnya, kejadian lima tahun terakhir menunjukkan justru sebaliknya. Pertumbuhan sektor industri manufaktur Indonesia terus menurun dan bahkan pada kuartal IV tahun 2019 dibawah 4%. Pertumbuhan yang menurun dan makin rendah ini mengakibatkan peran sektor industri manufaktur kepada PDB tahun 2019 turun ke angka 19% dari 23% pada tahun 2014 dan bahkan hampir 30% pada tahun 1997.

Padahal sebenarnya kita sudah mempunyai UU nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian yang akan lebih menguatkan program dan rencana pengembangan sektor industri dengan telah disusunnya Rencana Induk Pembangunan Indusri Nasional (RIPIN) yang tujuannya mendorong inovasi dan penguasaan teknologi industri yang hemat energi dan ramah lingkungan, menguatkan struktur industri, peningkatan persebaran pembangunan industri, dan meningkatkan peran industri kecil dan menengah terhadap PDB.

Selain industri hijau, dengan sangat jelas UU ini mengamanatkan adanya regulasi dalam bentuk Peraturan Pemerintah yang mengatur khusus Industri Strategis yang didefinisikan secara tegas dalam pasal 84. Dengan perkembangan seperti itu, dalam waktu tidak lama, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi berbasis industri yang terkemuka di kawasan Asia-Pasifik.

Industrialisasi Setelah New Normal

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tidak pernah ada prediksi bahwa China sebagai negara manufaktur terbesar dunia lumpuh karena Virus Corona. Setelah pandemi COVID-19 awal tahun 2020 diumumkan oleh WHO, Indeks Ketidakpastian Global (WUI) meningkat, Volatility Indeks (VIX) mencapai titik tertinggi, Kapitalisasi pasar saham global jatuh.

Hal-hal diatas disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan ISEI pada tanggal 9 Juni 2020 bersama Menko Perekonomian dan Gubernur Bank Indonesia. Indonesia juga terdampak namun dengan impact-lag selama dua bulan khususnya terhadap sektor industri. Sampai dengan triwulan 1 tahun 2020, perekonomian Indonesia masih bertumbuh sebesar 2,97% dengan perkiraan penurunan kegiatan dunia usaha -5,56%. Namun pada April indeks keyakinan konsumen turun -11,8% dan pada bulan Mei angka PMI (Procurement Managers Index) anjlog ke level 28,6% dari normal 50%. Adanya musibah wabah pandemi COVID-19 harus dilihat sebagai kesempatan dan peluang untuk kembali melaksanakan kebijakan industrialisasi yang sebenarnya sudah didukung dengan sangat kuat oleh UU 3 tahun 2014 tentang Perindustrian.

Pengembangan industri manufaktur sebagai sokoguru perekonomian Indonesia adalah keharusan dalam era Indutri 4.0. Namun hal tersebut hanya dapat dicapai jika masing-masing perusahaan melakukan pembenahan yang didukung kebijakan yang terpadu dan tegas berpihak pada pemberdayaan industri sehingga tercipta ekosistem yang sehat bagi kebangkitan industri manufaktur. Seperti dikatakan oleh Navy et.al (2012) dalam bukunya Jugaad Innovation bahwa prinsip inovasi yang sukses selalu berawal dari kesulitan atau tantangan (adversity), berusaha lebih dengan lebih sedikit, berpikir dan bertindak dengan luwes, harus sederhana untuk mendapatkan keuntungan dengan “mengikuti kata hati”.

Tentu secara alami akan terjadi pergeseran dan shifting dari bidang industri mana saja yang akan lebih dibutuhkan setelah new normal. Sebagaimana dalam buku terbarunya Kim dan Mauborgne (2017) industri harus dapat membayangkan dimana nantinya akan berada dan akan menemukan adanya “ocean of non customers”.

Pemerintah harus berani menerapkan kebijakan “ofset” dan substitusi impor. Setiap investasi asing diwajibkan memberikan kesempatan kepada industri dalam negeri yang sudah memiliki fasilitas dan SDM. Pengawasan yang ketat harus dilakukan bukan hanya dengan perhitungan TKDN (produk impor) yang seringkali diingkari dengan akal-akalan postaudit.

Penerapan kebijakan substitusi impor akan memberikan insentif kepada industri manufaktur dalam negeri untuk meningkatkan kemampuannya sesuai dengan TRL dan MRL. Pada saatnya, ekspor akan terdorong dan menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia dimasa mendatang. Heboh soal pandemi COVID-19 seharusnya disikapi sebagai kesempatan membangun kembali industri manufaktur demi masa depan perekonomian Indonesia yang sehat dan kuat. Bukan sebaliknya dengan membuka keran impor yang akan menghancurkan industri dalam negeri.(*)

Referensi :
Bolland, Eric J and Charles W Hofer, 1998. Future Firms: How America’s High Technology Companies Work. Oxford University Press

BPIS, 1997. Strategic Industries 1996-1997. Jakarta: BPIS.

Briggs, Asa. 1963. Technology and Economic Development. NY:Scientific American. Carey, John. 1994. ‘Could America Afford the Transistor Today ?’. Business Week. March 7:38-43

Coyle, Diane, 1998. Weightless World: Strategies for Managing the Digital Economy. Cambridge: The MIT Press

Djojohadikusumo, 1985. Perdagangan dan Industri dalam Pembangunan. Jakarta : LP3ES

Doyle, Peter, 2000. Value-Based Marketing. New York : John Wiley & Sons Ltd

Elam, Mark. 1993. ‘Markets, morals and power of innovation’. Economy and Society. 22(1):1- 41.

Firmanzah. 2014. ‘Kebangkitan Industri Nasional’. http://www.koran-sindo.com/node/378844 (diakses April 2014)

Fisk, Peter. 2008. Business Genius. UK: Capstone Publishing Ltd

Fisk, Peter. 2009. Customer Genius. UK: Capstone Publishing Ltd

Habibie, 1989, ‘Beberapa Kendala Dalam Mentransformasikan Bangsa menjadi Masyarakat Yang Modern’. Sambutan dalam Wisuda Program M.B.A IPMI 25 Agustus 1989

Hartarto, Airlangga, 2017. wawancara khusus https://economy.okezone.com/read/2017/11/02/320/1807384/menperin-kontribusi-sektor-industri-ke-pdb-tembus-22-kalahkan-amerika) (diakses 3 September 2019)

Kim, W Chan and Renee Mauborgne. 2017. Blue Ocean Shift, Beyond Competing. NewYork: Hachette Books

Kourdi, Jeremy. 2015. The Big 100. London: John Murray Learning

Lall, Sanjaya. 1998. ‘Technology Policies in Indonesia’. Indonesian Technological Challenge. Singapore: ISEAS.

McKendrick, David. 1992. ‘Obstacle to Catch-up’. Bulletin of Indonesian Economic Studies 28(1):39-66

Nasution, Mahyudin and Basri. 1993. ‘Tinjauan Triwulan Perekonomian Indonesia’. Economics and Finance in Indonesia 41 (2): 121-162

Osterwalder, Alexander & Yves Pgineur. 2010. Business Model Generation. NewJersey: John Wiley & Sons Inc.

Pack, Howard. 1993.’Technology Gaps between Industrial and Developing Countries: Are there dividends for Latecomers ?’ Proceedings of the World Bank Annual Conference on Development Economics 1992 (283-332). NY:IBRD.

Patnaik, Srikanta ed. 2018. New Paradigm of Industry 4.0. Switzerland: Springer Porter, Michael E., 1990. The Competitive Advantage of Nations. London: MacMillan Radjou, Navy and Jaideep Prabhu and Simone Ahuja. 2012 Jugaad Innovation. San Francisco: Jossey Bass

Ravenhill, John. 1994. ‘Australia and the Global Economy in Stephen Bell and Brian Head eds. State, Economy and Public Policy in Australia. Melbourne: Oxford University Press.

Renjen, Punit. 2020. Industry 4.0: At the intersection of readiness and responsibility https://www2.deloitte.com/us/en/insights/deloitte-review/issue-22/industry-4-0-technology-manufacturing-revolution.html (diakses 21 April 2020)

Rice, Robert. 1998. ‘The Habibie Approach to Science, Technology and National Development‘. Indonesian Technological Challenge. Singapore: ISEAS.

Sampurno-Kuffal, F. Harry, 2011. Keruntuhan Industri Strategis Indonesia. Bandung: Khazanah Bahari

Sekimoto, Tadahiro. 1990. ‘Technological Innovation and Corporate Management for 21st century’. Computers in Industry 14(3):257-263

Soesastro, Hadi. 1998. ‘Emerging Pattern of Technology Flows in the Asia Apcific Region; Relevance to Indonesia‘. Indonesian Technological Challenge. Singapore: ISEAS.

Stiglitz, Joseph E. 2015. The Great Divide. Penguin Books:WW Norton & Company Inc.

Latest News

Genjot Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak, Kementan Gandeng Pelaku Usaha

Dalam upaya peningkatan produksi pangan, khususnya pangan asal ternak untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan tujuan ekspor, Kementerian Pertanian...

More Articles Like This