No menu items!

Industri Berbasis Teknologi Sebagai Engine of Growth

Must Read

Oleh : F. Harry Sampurno, Ph.D, Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero)

F. Harry Sampurno, Ph.D, Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero)

Ringkasan :

Program industrialisasi sebagai salah satu kebijakan ekonomi yang ditujukan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, haruslah disesuaikan dengan trend VUCA dengan mengarah ke era regionalisasi ekonomi dunia saat ini. Di Indonesia pernah dilaksanakan kebijakan industrialisasi dengan falsafah “berawal dari akhir dan berakhir di awal” dengan program transformasi industri melalui wahana industri berbasis teknologi (technology-based industries) yang terbukti berhasil mendorong peningkatan penguasaan teknologi dan mempercepat pembangunan nasional. Hal ini karena dukungan kepemimpinan nasional dan regulasi yang berpihak kepada industri dalam negeri serta pembangunan sumber daya manusia yang merupakan pelaksana kunci dari industri yang berbasis teknologi.

Dari survey konsultan global Delloitte tentang kesiapan dunia usaha menghadapi interconnected era (Renjen, 2020) diketahui bahwa sektor industri menghadapi realitas baru dalam pendekatan Industry 4.0 dari sisi strategi, dampak sosial, talent dan teknologi. Industri berbasis teknologi semakin menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi.

Ratusan tahun yang lalu sebagaimana diringkaskan oleh Patnaik (2018), penemuan hal-hal baru mendorong terjadinya Revolusi Industri yang ditandai dengan digunakannya mesin uap pada paruh kedua abad 18 dan disebut dengan era mekanisasi. Revolusi Industri tahap kedua atau 2.0 terjadi karena dimanfaatkannya listrik dalam proses produksi sejak akhir abad ke-19 yang disebut elektrifikasi oleh ekonom Erick Zimmerman. Tak lama kemudian gelombang ketiga 3.0 atau zaman komputerisasi di dekade 1970an melahirkan computer aided machine yang terkenal dengan istilah CAD/CAM. Barulah tahun 2011 istilah Industry 4.0 dikenalkan di Hannover Fair untuk suatu proyek inovasi teknologi digitalisasi sistem manufaktur yang memadukan pertukaran data yang masif melalui IoT dengan Cloud computing yang kemudian disebut Cyber Physical System.

Inovasi teknologi memang merupakan andalan dari negara yang tidak mempunyai atau tidak ingin tergantung pada sumber daya alam (Sekimoto, 1990; Carey, 1994), sehingga mereka membangun industri berbasis teknologi yang terbukti mengubah perekonomian dunia (1). Industri ini bersifat jangka panjang sehingga disebut juga “industri strategis” dimana manusia yang terbarukan merupakan penentu kemajuan suatu bangsa. Perpaduannya dengan infrastruktur ekonomi seperti transportasi, komunikasi, energi dan iptek, menjadi landasan kemampuan memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dengan biaya yang rendah (2).

Menurut Mark Elam (1993), hal tersebut dapat terlihat dengan terjadinya pergeseran persaingan perdagangan dunia yang menjadi lebih “science-based” sehingga sumber daya alam yang menjadi daya saing perekonomian suatu negara menjadi kurang berarti lagi. Faktor kuncinya adalah produktivitas nasional; yaitu kemampuan memanfaatkan kekayaan yang ada untuk menghasilkan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran yang meningkatkan cadangan devisa. Produktivitas ini adalah ukuran partisipasi sumber daya manusia dalam proses nilai tambah yang menghasilkan barang dan jasa yang dapat dikonsumsi oleh pasar domestik, regional maupun internasional dengan kualitas dan harga yang bersaing (Kuffal, 2011).

Data di Indonesia juga menunjukkan bahwa nilai ekspor komoditi pertanian pada tahun 2010 hanya mencapai US$ 5 milyar, hasil pertambangan sebesar US$ 26,6 milyar dan migas sebesar US$ 28 milyar, sedangkan ekspor produk manufaktur/industri pada tahun yang sama telah mencapai hampir US$ 100 milyar. Hal ini menjelaskan bahwa peranan sumber daya alam dalam devisa ekspor kian menurun sementara peran sumber daya manusia yang dicerminkan melalui sektor industri terus meningkat. Inilah rahasia pembangunan Jepang yang kemudian ditiru negara Asia Timur yang tidak memiliki kekuatan sumber daya alam.

Fakta dan kajian menunjukkan bahwa pada masa mendatang kemajuan terletak pada sektor industri dan ini berarti bahwa kunci kesejahteraan pada masa yang akan datang terletak pada pembangunan yang didasarkan pada sumber daya manusia, atau dengan kata lain terletak pada kemampuan bangsa menerapkan iptek dalam perencanaan produksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh dunia yang akan semakin kaya.

Carey (1994) menyatakan bahwa iptek merupakan kunci keberhasilan pengembangan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur ekonomi dan pembangunan industri. Ada dua tahapan pengembangan sumber daya manusia yaitu pendidikan untuk memperoleh kemampuan yang diperlukan pada sektor produksi serta pengembangan kemampuan tersebut menjadi keahlian atau skill dengan produktivitas yang tinggi. Kedua tahap itu membutuhkan perhatian dan perencanaan yang seksama sehingga dapat dilaksanakan secara selaras melalui regulasi yang terpadu dan koordinasi dengan lembaga pendidikan. Pendidikan harus diarahkan dan disesuaikan dengan proses nilai tambah produksi perusahaan (pihak pemberi kerja). Investasi sumber daya manusia pasti akan menghasilkan kemampuan untuk menciptakan output yang bernilai lebih tinggi.

Produktivitas manusia harus dilihat sebagai satuan rupiah perjam perorang dan produktivitas kapital yang dinyatakan dalam output per mesin perjam. Dan jika peningkatan produktivitas tersebut digabungkan dengan inovasi, entrepreunership dan perencanaan strategis yang tepat dan berpandangan jauh kedepan hasilnya merupakan peningkatan produktivitas nasional yang besar.

Peningkatan produktivitas tergantung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Entrepreunership, inovasi dan pandangan ke depan merupakan produk dari sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan perkataan lain peningkatan produktivitas nasional tergantung pada kemampuan meningkatkan upaya dan pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu sangatlah penting penerapan peningkatan skill dan kemampuan manusia dalam suatu sistim pendukung yang terpadu dan saling menguntungkan.

Salah satu penyebab penurunan tingkat produktivitas AS dibandingkan dengan Jepang dan Jerman adalah langkanya lulusan perguruan tinggi AS dibidang iptek ( AS 6%, Jepang 20% dan Jerman 37%). Akibatnya di tahun 90an perusahaan AS kalah bersaing dalam memenuhi permintaan konsumen akan produk yang berkualitas dengan harga yang murah (Carey, 1994).(klik bersambung 2)

(1) Rasio produk berteknologi tinggi terhadap volume perdagangan dunia meningkat dari 14% di tahun 1966 menjadi 22% di tahun 1986 (Ravenhill, 1994).

(2) Disarikan dari Sambutan Prof.Dr.-Ing. B.J. Habibie dalam Wisuda Program M.B.A IPMI 25 Agustus 1989

Latest News

Genjot Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak, Kementan Gandeng Pelaku Usaha

Dalam upaya peningkatan produksi pangan, khususnya pangan asal ternak untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan tujuan ekspor, Kementerian Pertanian...

More Articles Like This