No menu items!

Setelah Jerman, Rusia Jadi Pasar Potensial Tepung Kelapa Sulawesi

Must Read

Rusia menjadi pasar potensial ekspor tepung kelapa asal Provinsi Sulawesi Utara. Pasalnya, saat ini pengiriman ke negara tersebut secara rutin dilakukan setiap bulan. Sebelumnya, produk tepung kelapa Sulawesi telah menembus pasar Jerman dan Timur Tengah.

“Di akhir bulan Desember 2020 Sulawesi Utara dua kali mengekspor tepung kelapa ke Rusia,” kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara Darwin Muksin, di Manado, Selasa (12/1/2021).

Dia mengatakan ekspor tepung kelapa pertama pada Desember 2020 sebanyak 24 ton dan mampu menghasilkan devisa pada negara sebesar 26.400 dolar AS.

Rusia masuk kategori pasar non-tradisional. Namun, lanjutnya, mampu dioptimalkan pelaku usaha di daerah ini sehingga berkembang, yang ditandai dengan permintaan pembeli dari negara tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Pemerintah daerah akan terus mendorong optimalisasi pasar Rusia dalam upaya mendorong pertumbuhan ekspor lebih tinggi pada tahun 2021 ini,” katanya.

Tepung kelapa merupakan komoditas unggulan Sulawesi Utara yang menempati ranking 10 besar sebagai penyumbang devisa terbesar bagi daerah ini sejak beberapa tahun terakhir ini.

Pemerintah akan terus memfasilitasi pasar baru bagi komoditas unggulan Sulawesi Utara tersebut.

Sebelumnya Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian Ali Jamil melepas ekspor perdana tepung kelapa (descoated coconut) hasil olahan setengah jadi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, ke Jerman.

“Patut kita apresiasi, ekspor dalam bentuk olahan setengah jadi dan juga langsung,” kata Ali Jamil, saat meninjau industri olahan kelapa di Desa Kayutanyo, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, beberapa waktu lalu.

Peninjauan itu dilakukan guna memastikan sebanyak 50 ton tepung kelapa dengan nilai ekonomis sebesar Rp810 juta telah memenuhi persyaratan ekspor ke Jerman.

Dia mengatakan dengan adanya industri yang kelola PT. Sasl and Sons Indonesia, sebuah perusahaan grup dari Silvermill yang berpusat di Sri Lanka tersebut masyarakat petani dapat langsung merasakan nilai tambah dari komoditas kelapa tersebut.

Menurut Jamil, sebelum diekspor pihaknya melakukan serangkaian tindakan pemeriksaan karantina yang sesuai dengan persyaratan teknis negara tujuan.

Layanan karantina dimulai dari pengajuan Permohonan Pemeriksaan Karantina (PPK) yang dilakukan secara daring oleh eksportir.

“Tidak perlu antri, dapat dilakukan dimana dan kapan saja,” terang Jamil. Dia mengatakan kualitas, kuantitas dan kontiniutas produk unggulan perlu ini dijaga.

Menurutnya budidaya berkelanjutan dapat dimulai dari pemilihan benih unggul, pertanaman yang baik dan pengendalian hama yang tepat menjadi penting untuk menjaga kualitas, kuantitas dan kontiniutas komoditas ekspor.

Selanjutnya produk yang berlimpah, berkualitas dan bebas hama penyakit memiliki peluang di pasar ekspor.

Sebagai otoritas karantina, Barantan menjadi penjamin kesehatan dan keamanan sesuai dengan standar perdagangan internasional.

Sejauh ini kata dia, tidak ada hambatan tarif (tariff barrier), sepanjang memenuhi persyaratan teknis.

Penguatan sistem perkarantinaan untuk melindungi kelestarian SDA hayati sekaligus memainkan peran dalam mendorong kinerja ekspor pertanian, menjadi amanah Barantan sebagai bagian dari unit kerja di Kementan.

Bupati Banggai, Herwin Yatim yang turut hadir pada pelepasan ekspor perdana itu menyampaikan apresiasinya kepada Kementan karena pembangunan pertanian yang berbasis kawasan mulai dirasakan manfaatnya.

Herwin mengatakan kini jajarannya dapat mengintegrasikan investasi di wilayahnya dengan potensi yang ada. “Contohnya, potensi kelapa di Banggai yang besar dan dilanjutkan dengan investasi industri di bidang tepung kelapa. Produk berlimpah, industri olahan tersedia dan pasar ekspor yang terbuka,” jelasnya.

Herwin juga mengajak pihak-pihak terkait agar dapat memanfaatkan fasilitas ekspor langsung di Pelabuhan Tangkiang di Luwuk untuk kesejahteraan masyarakat.

Saat ini kata dia, berbagai komoditas unggulan ekspor asal Provinsi Sulteng berupa getah pinus, kayu ebony, kopra, cengkeh, kakao biji, rumput laut, dan rotan. Sementara negara tujuan ekspor meliputi Cina, Pakistan, India, Jepang, Belanda, Singapura, Taiwan, Malaysia hingga Argentina.(DC04)

Latest News

Pertamina Lubricants Dukung Pencapaian Target Hulu Migas Nasional

PT Pertamina Lubricants (PTPL), anak perusahaan Subholding Commercial & Trading Pertamina, yang mengelola usaha pelumas otomotif dan industri baik...

More Articles Like This